expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

WELCOME

Terima Kasih Telah mengunjungi Blog Saya...
Semoga Bermanfaat... :-)

Add My Face book : Riesa Tirta Maladewi
Follow My Twitter : @RiesaTirta



Minggu, 16 Desember 2012

Cerpen : My First Love in Senior High School



Karya : Riesa Tirta Maladewi



           Jari telunjuk ku sibuk mencari-cari keberadaan namaku pada tiga lembar kertas hvs yang tertempel di mading Sekolah Menengah Atas yang terbilang favorit di kota ku. Telunjuk ku bergeser dari atas kebawah di ikuti mataku yang terus melotot naik turun menemukan sebaris nama ku yang berjejer diantara 250 nama anak manusia yang terketik dikertas yang hampir robek akibat tangan-tangan yang tak sabaran ingin melihat daftar nama yg berhasil lulus di SMA tersebut. Tak lama kemudian telunjuk ku berhenti tepat di urutan ke tiga. Yaa, itu tandanya aku berhasil lulus seleksi masuk ke sekolah tersebut menduduki peringkat ke tiga. Bangganya aku kala itu, lima detik kemudian temanku Wulan teriak kegirangan karna namanya berada di urutan ke lima. Kami pun bersorak kesenangan dan tiba-tiba berhenti sejenak ketika aku merasa ada yang mencolek pundakku.
“Mbak, udah kan lihat pengumumannya? geser dong.. kami juga mau lihat. Kalo mbak di depan terus kami jadi sulit untuk melihat nama kami.” Ujar perempuan berjilbab dan berkacamata yang mencolek ku tadi.
Eh.. iyaa.. iyaa. Maaf..” jawabku dengan cengengesan seraya menarik tangan Wulan untuk berpindah tempat dari kerumunan orang-orang tersebut. Saking senangnya kami tak menyadari ternyata di belakang kami masih banyak orang-orang yang berdesak-desakkan untuk maju ke depan supaya melihat lebih jelas kertas pengumuman tersebut.
Wah, ternyata banyak juga ya lan yang pengen masuk ke sekolah ini, kita beruntung bisa lulus bahkan dapet peringkat lima besar pula” kataku sembari melirik jam tangan yang menunjukkan pukul tiga sore. Selang beberapa detik kemudian ada yang mencolek pundakku lagi untuk ke-dua kalinya. Sontak bikin aku terkejut dan segera menoleh kebelakang. Ada seorang laki-laki yang berpenampilan acak-acakan dengan rambut agak gondrong terlihat memegang map kuning yang di dalamnya berisi tumpukan kertas.
“ Maaf mbak, ada pena gak? Boleh pinjem bentar?” kata laki-laki itu seperti terburu-buru ingin menulis sesuatu.
Ya ya. Ada. Bentar yaa” Jawabku sembari merogoh tas ku mencari kotak pensil yang berisikan beberapa pena dan pensil.
“Ini penanya” seru ku singkat sambil menjulurkan pena ke arahnya. Dia pun bergegas mengambil pena dari tanganku dan menulis sesuatu di kertas yang berada di dalam map yang di pegang nya sejak tadi.
“Ini mbak, makasih penanya. Eh, mbak daftar disini juga yah? Gimana? Lulus? Urutan ke berapa?” Tanya nya memborong yang terkesan membuat aku berfikir betapa SKSD nya lelaki yang memiliki satu jerawat di pipi kanannya ini.
“ Iyaa. Aku dan temanku daftar disini juga kebetulan lulus dan Alhamdulillah masuk urutan lima besar” Jawabku dengan memperlihatkan senyum yang terkesan dibuat-buat. Emm.. bukan terkesan sih, emang sengaja di buat-buat. Soalnya aku illfeel melihat lelaki ini karena penampilannya yang tidak rapi apalagi melihat rambutnya yang hampir menyerupai sangkar burung. Di tambah pertanyaan nya yang terkesan sedang mewawancarai tersangka maling ayam. Uh, bikin jengkel deh pokoknya. Tapi tentu saja aku tidak memperlihatkan ketidak senanganku pada nya untuk menjaga perasaannya dan menjaga nama baik ku pastinya.
Eh, mbak sudah daftar ulang belum? Daftar ulang nya disana. Bawa’ photo copy raport, ijazah, skhu dan Bla. Bla. Bla” dia terus saja menceracau seraya menunjuk sebuah ruangan yang tak jauh dari tempat ku berdiri.
Belum, besok aja deh kami kesini lagi. Kami kesini tadi gak bawa syarat-syarat daftar ulangnya, lagian kayak nya daftar ulang nya udah mau tutup deh. Sekarang udah hampir jam 4.” Kata ku sambil menunjukkan jam tangan yang aku kenakan ke arahnya. Ntah dia lihat atau tidak kemana arah jarum jam pada saat itu, peduli amat pikirku. Dia hanya mengangguk-angguk dan tak lama kemudian pamit untuk pergi. Aku dan Wulan hanya tersenyum lirih kearahnya.
Keesokkan harinya aku dan Wulan datang kembali ke calon sekolah baru kami untuk daftar ulang. Usai daftar ulang, kami pun melihat pengumuman tentang atribut apa saja yang digunakan untuk mengikuti MOS. Terlihat pengumuman MOS tertulis di sebuah karton warna pink dengan coretan spidol. Banyak sekali yang harus di persiapkan pikirku saat melihat poin-poin pengumuman yang tertempel di dinding ruangan berwarna cream itu.
“Hey, udah daftar ulangnya?” Nampak dari kejauhan ada sosok laki-laki si empunya suara menghampiri kami. Olala laki2 ini yang SKSD kemarin, nongol lagi ternyata. gerutuku dalam hati.
Iya, kami barusan selesai daftar ulang, ini lagi nyatat atribut MOS” Jawabku sambil menulis di buku catatanku dan sesekali melirik ke arahnya.
Wah, ada ya? Apa aja yg harus dibawa’? banyak yah?” Tanya si laki-laki yang lupa kutanyakan siapa namanya dan tak penting pikirku saat itu.
Itu kan ada semua noh ditulis di karton itu. Kamu catet aja lagi” Perintah wulan menimpali pertanyaan dari laki-laki yang langsung mengeluarkan buku dan pena untuk bersiap mencatat. Lelaki itu pun membalas dengan anggukkan dan senyuman namun tetap saja banyak pertanyaan-pertanyaan yang tidak penting dan tidak perlu kami jawab perihal atribut MOS. Toh semua sudah di jelasi lengkap di pengumuman tersebut. Kepo banget sih nih anak. Gerutu ku dalam hati. Oh my GOD..... Seperti inikah teman-temanku nanti disekolah baruku ini???
*****


            Ada yang menyodorkan sebotol air mineral di hadapanku saat aku baru saja selesai latihan paskibra. Haus memang saat itu ditambah cuaca yang memang terik. Namun aku tak lantas mengambilnya, aku amati sejenak air mineral y
ang di sodorkan oleh tangan berkulit sawo matang itu tepat di depan mukaku yang penuh dengan keringat. Aku mendongak ke atas untuk melihat siapa yang berbaik hati memberi ku sebotol air mineral, ku dapati sesosok pria yang tersenyum sumringah kearah muka-ku yg tak karuan bagaimana bentuknya pada saat itu. Laki-laki yang tampan kesan pertamaku melihat laki-laki ini. Aku hanya terdiam aneh melihat wajah nya yang seakan telah mengenalku cukup lama sementara aku tak tahu siapa dia. Berhubung rasa haus yang amat sangat aku pun lekas meraih sebotol air mineral yang ada ditangannya dan lantas meminumnya. dua teguk air membasahi kerongkonganku yang tandus.

            “Huhh..  Akhirnyaa rasa haus ku terobati, emm makasih yaa” Ujarku seraya menatap laki-laki yang tak ku ketahui namanya. Ntah lupa atau aku nya benar-benar gak tau.

            “Sama-sama. Kamu masih ingat aku?”
Responnya singkat namun mampu membuat ku salah tingkah. Waduh, celaka... pertanyaan yang ku takutkan akhirnya muncul juga.

            “
E..eh. eh.. Emang kamu siapa? Hehe tanyaku sambil cengengesan dengan muka yang dibikin sok manis. Sambil mengingat siapa gerangan lelaki yang mengenakan kaos hitam dan celana jeans ini.

            “Aku A
wan anak Sepuluh C” jawabnya dengan penuh antusias

            Usiaku sekitar 15 tahun pada waktu itu dan baru menginjak lima bulan pertama sebagai murid kelas satu
SMA. Sebagai murid baru wajar saja aku tak mengenal dia walaupun dia seangkatan denganku. Letak kelas nya berada di belakang kelasku, dan lima bulan pertama di sekolah hampir sebagian besar kuhabiskan didalam kelas untuk sekedar baca novel dan menulis puisi, hobi yg mulai ku geluti sejak SMP. Jadi sangat wajar jika aku tak mengenali sosok pria yang saat itu duduk di sampingku dan sesekali menatapku dengan pandangan yang mampu membuat hati ku bergetar.

            “
Oh, Awan yah? Thanks loh buat air nya. Betewe ngapain kamu disini? Ikut paskib juga? Kok gak pake’ baju latihan” Cerca ku dengan rentetan pertanyaan biar terkesan akrab tapi malah terkesan sok akrab.

            “
Gak kok, aku pengen liat kamu latihan aja sekalian bisa kenal akrab sama kamu” ucapnya sambil tersenyum manis.

            “
Alaaah kamu bisa aja” Ucapku singkat supaya gak terkesan salting. Padahal.. beeuhh... deg-deg-an aku di buatnya.. Pengen teriak kegirangan tapi bukan Fita namanya kalo gak bisa masang muka stay cool dihadapan cowok. Aku membalas senyumnya dengan senyuman semanis mungkin ala miss Indonesia yang baru kepergok maling jemuran.
Lho?
Emang ada?

            Sejak kapan aku mulai di gombalin cowok cakep pikirku waktu itu. Baru saja ingin berkhayal ria sang pelatih paskibra menyuruh aku beserta anggota paskibra lainnya berbaris lagi di lapangan sekolah di tengah teriknya matahari yang terasa menembus epidermis kulitku.

            “Eh, aku latihan dulu yah
wan...Seruku sampil menepuk ringan pundaknya.
            “iyaa, ta.. jangan terlalu capek yah, ntar pingsan lho”
Teriak nya ketika aku bergegas meninggalkannya duduk sendirian menuju lapangan. Aku hanya mengacungkan jari jempolku dan kali ini tersenyum layak nya anggota DPR yang koruspi tapi gag ketahuan publik. Lho koq?

            Siap gerak, luruskan, Jalan tempat, hadap kiri, hadap kanan, balik kanan..
 yah itu lah aba-aba yang di teriakkan lantang oleh pelatih paskibra ku yang serentak aku dan teman-teman ikuti dengan nyawa setengah melayang. Uhh.. capek juga fikirku ikut ekstrakurikuler yang satu ini. Perlu diketahui sekolah ku mewajibkan muridnya untuk mengikuti ekstrakulikuler apapun di sekolah. Minimal satu ekskul. Berhubung temen-temenku banyak yang ikutan ekskul yang menguras tenaga ini. Aku pun iseng ikut-ikutan jugaa, yah.. nambah pengalaman lah pikirku.

            “
Fitaaa, khusus untk Fita karena kakak lihat dia sering melamun, gerakkannya salah terus. Langkah tegap maju jalan.” Teriak kakak pelatih itu yang kayaknya sengaja mempermalukanku.

           
Ettdahh aku tersentakk. Kenapa aku sih? Padahal yang lain kan juga banyak yang salah gerakannya. Kok cuma aku yang diberi aba-aba seperti itu?” gerutuku kesal dalam hati seraya tetap berjalan mengikuti aba-aba yang di perintahkan pelatih bertubuh tinggi tegap itu.

            “Henti gerak!”
Aba-aba darinya mengharuskan ku untuk berhenti di tengah lapangan persisnya tepat di depan tiang bendera. Gilaa.. panassnyaa semriwing deh pokoknyaa..

            “Balik kanan gerak!” Aba-aba dari pelatih membuyarkan pikiranku yang hampir melamun lagi untuk ke sekian kalinya.

           
Taarrraaa... ketika aku membalikkan badanku.. kudapati sosok pria yg dengan senyum khas nya berdiri cool tepat dihadapanku. Aku tak dapat menyembunyikan rasa kaget ku. Ku lirik pelatihku namun dia hanya tersenyum di iringi sorakkan dan siulan dari teman-temanku. Hmm... Nampaknya terjadi persengkokolan antara pelatih paskibraku dengan laki-laki yang berdiri tepat dihadapanku ini.

            “
Hah? Kamu ngapain berdiri disini?” celetuk ku dengan agak sedikit jutek mungkin kebawa kesal gara-gara hanya aku dari 35 orang yang ikut latihan pada siang itu yg harus berdiri di tengah-tengah lapangan ditemani matahari yang seakan gak mau pisah dari tempatku berdiri.
Setalah hening selama 30 detik, Awan pun menjawab...
            “
Aa a ku Cuma mau bilang kalo E ee.. ee.. aa..aa..kuu.. Aakuu ssukaa sama kamu taa, kamu mau gag jadi pacar aku?
             JEGERR..  Mataku terbelalak dan mulutku tak mampu berbicara diikuti jantung yang berdegup kencang, keringat menyucur deras, dan mulutku susah sekali untuk mengeluarkan suara. Sumpah
, aku kaget banget mendengar ucapannya yang terkesan to the point itu. Mendengar pernyataan cinta tersebut kontan saja teman-temanku yang tadinya berbaris rapi kini berpencar membentuk huruf O melingkar menyisakan ruang ditengah-tengahnya yang hanya ada aku dan Awan. Bahkan kakak-kakak kelas ku yang kebetulan lagi istirahat dari les di luar jam sekolah pun turut beramai-ramai menyaksikan sweet tragedy yang tak pernah aku duga-duga sebelumnya. Yaa Tuhan.. Ini apa coba? Aku kan belum kenal siapa orang ini? Kok dia langsung nembak aku sih? Aku harus bilang apa? Ceracau ku dalam hati dan perlahan mengepalkan tanganku yang mulai terasa dingin dan kaku karna nerveous minta’ ampun.

            “Gimana taa, kamu mau ga
k jadi pacar aku? Aku sayang sama kamu. Terima aku yaa? Please?” ucap Awan dengan raut wajah yang serius seraya meraih kedua tanganku yang berhasil beku pada kala itu. Aku pun melepaskan genggaman tangannya dan mundur perlahan dua langkah dari hadapannya. Haduh.. harus jawab apa coba? Masa aku jadian sama orang yang baru aku kenal barusan? Gag asik dong. Bisikku dalam hati sambil memasang tampang seperti orang yang sedang berfikir.

            “
Ee..eeh.. gimana yaa wan, jujur aku belum mengenal kamu lebih dekat. Dan aku rasa kamu pun juga begitu. Kok kamu bisa suka sih sama aku? Kok tiba-tiba kamu harus senekat ini?” Kataku seraya melihat mukanya yang dipasang setengah memohon. Persis kayag adek aku sewaktu merengek minta di beli’in permen.

            “Aku udah lama merhati’in kamu bahkan sebelum
kita resmi masuk di sekolah ini. Kamu inget cowok yang minjem pena sewaktu kamu mendaftarkan diri ke sekolah ini? Kamu inget cowok yg banyak tanya perihal atribus mos yang harus dikenakan padahal di mading udah ada pengumumannya? Kamu inget cowok itu taa?” Tegasnya dengan semangat ’45 persis pahlawan revolusi.
Itu akuu, aku sengaja minjem pena dan nanya2 gag jelas semata-mata untuk deket dan mengambil perhatian kamu. Sampai dirumah aku kepikiran kamu terus, kamu manis dan kamu baik pikirku. Aku pengen jadi orang special di hati kamu? Please tha?” Sambung Awan penuh penghayatan dan membuat aku yang melihatnya terharu bercampur iba.

            Busyet deh... Aku hanya mampu menelan ludah mendengar kata-kata yang tak kusangka langsung merubah suhu tubuhku menjadi panas dingin tak karuan.
Aku melihat di sekelilingku yang sedari tadi mengucapkan kata “terima” dengan penuh suka cita. Aku benar-benar bingung pada waktu itu, aku gak nyangka bahwa pria tampan ini adalah pria yg aku anggap SKSD ”sok kenal sok dekat” pada waktu pendaftran sekolah. Pangling aku dibuatnya. Dia berubah 180 derajat sejak pertama kali aku melihatnya.
Dia telah berubah nampaknya dari segi penampilan, pantas saja aku hampir tak mengenalinya meski dalam hati berujar seperti pernah melihatnya tapi dimana?
Pertanyaanku terjawab sudah. Dia orang SKSD itu. Tapi dulu gaya nya sangat cupu sekali, persis orang desa masuk kota. Tapi sekarang, dengan gayanya dari ujung kaki sampai ujung rambut dia bahkan bisa mendapatkan 5 wanita yang jauh lebih baik dari ku.
Waktu itu aku bukanlah wanita yang senang memperhatikan penampilan. Bahkan aku ke sekolah pun tanpa bedak yg menempel. Penampilanku biasa-biasa saja . Aku tak bisa dibilang cantik pada waktu itu meski terkadang sayup-sayup ku dengar ada yakg memuji senyum manisku. Caa ilee...
Haah? Apa hanya dengan bermodal senyum aku mampu mengetarkan hati pria yg berdiri harap-harap cemas tepat dua langkah di hadapanku. Lagi-lagi aku di selimuti kebimbangan. Aku takut dia hanya mempermainkanku. Aku menoleh kearah teman karibku, Wulan. Dia mengangguk memberi pertanda bahwa dia setuju. Ah, ingin sekali aku berkata tidak. Namun melihat raut muka Awan yang begitu berharap dan mendengar teriakan “terima” dari teman-teman sekelilingku aku pun luluh juga, aku tak ingin mengecewakan mereka dan akhirnya...

            “
Yaa, aku mau jadi pacar kamu. Tapi kamu janji kan gak mainin perasaan aku?Tanyaku dengan sorotan mata yang tajam seperti baru saja memergoki maling sandal di masjid.

            “
Pasti ta, Aku gak bakal ngecewa’in kamu. Aku sayang kamu. Makasih ya ta udah nerima aku. Jadi, mulai sekarang kita pacaran kan?” Ucapnya penuh semangat dengan raut muka yang begitu bahagia. Aku pun hanya tersenyum dan mengangguk merespon positif semua perkataan nya yang menunjukkan rasa senang yang amat sangat.
Tuhan. Inikah sosok malaikat yang Engkau kirimkan untuk menjaga ku disekolah baru ini? Aku hanya bisa bernafas lega dan berkata dalam hati. Awan, Aku telah memilihmu menjadi laki-laki pertama yang menjadi pacarku di sekolah baru ini. Aku harap kamu gak ngecewa’in aku. Dan aku akan belajar mencintaimu dan menjadi yang terbaik untukmu. Aku harap kamu menjadi salah satu alasan bagiku untuk semangat belajar dan mengejar prestasi di sekolah ini dan aku pun akan selalu berusaha menjadi seseorang yang berarti di hidupmu untuk ke depannya. Aamiin..
*****


5 komentar:

  1. wihh,,, keren nih karyanya, kalau di bikin film FTV kyaknya bagus tu hehehe :)
    By Danu

    BalasHapus
  2. Bagus cerpennya mengingatkan saya pada masa SMA.
    kalau boleh saya kasih saran, pada introduction pengenalan karakter utamanya kurang kuat.
    hanya saran sih dari newbie :)

    Terus berkarya sis.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe.. okee deh..
      saran diterimaa, makasih... :)

      Hapus
  3. wahhhh kalo ada konfliknya bakalan lebuh seru nihhh cerpennya :)

    BalasHapus