Karya : Riesa Tirta Maladewi
Jari telunjuk ku
sibuk mencari-cari keberadaan namaku pada tiga lembar kertas hvs yang tertempel
di mading Sekolah Menengah Atas yang
terbilang favorit di kota ku. Telunjuk ku bergeser dari atas kebawah di ikuti
mataku yang terus melotot naik turun menemukan sebaris nama ku yang berjejer
diantara 250 nama anak manusia yang terketik dikertas yang hampir robek akibat
tangan-tangan yang tak sabaran ingin melihat daftar nama yg berhasil lulus di SMA
tersebut. Tak lama kemudian telunjuk ku berhenti tepat di urutan ke tiga. Yaa,
itu tandanya aku berhasil lulus seleksi masuk ke sekolah tersebut menduduki
peringkat ke tiga. Bangganya aku kala itu,
lima detik kemudian temanku
Wulan teriak kegirangan karna namanya berada di urutan ke lima. Kami pun
bersorak kesenangan dan tiba-tiba berhenti sejenak ketika aku merasa ada yang
mencolek pundakku.
“Mbak, udah kan
lihat pengumumannya? geser
dong.. kami juga mau lihat. Kalo mbak di depan terus kami jadi sulit untuk
melihat nama kami.” Ujar perempuan berjilbab dan berkacamata yang mencolek ku
tadi.
“Eh.. iyaa.. iyaa.
Maaf..” jawabku dengan cengengesan seraya menarik tangan Wulan untuk
berpindah tempat
dari kerumunan orang-orang tersebut. Saking senangnya kami tak menyadari
ternyata di belakang kami masih banyak orang-orang yang berdesak-desakkan untuk
maju ke depan supaya melihat lebih jelas kertas pengumuman tersebut.
“Wah, ternyata
banyak juga ya lan yang pengen masuk ke sekolah ini, kita beruntung bisa lulus bahkan
dapet peringkat lima besar pula” kataku sembari melirik jam tangan yang
menunjukkan pukul tiga sore. Selang beberapa detik kemudian ada yang mencolek
pundakku lagi untuk ke-dua kalinya.
Sontak bikin aku terkejut dan segera menoleh kebelakang. Ada seorang laki-laki
yang berpenampilan acak-acakan dengan rambut agak gondrong terlihat memegang
map kuning yang di dalamnya berisi tumpukan kertas.
“ Maaf mbak, ada
pena gak? Boleh pinjem bentar?” kata laki-laki itu seperti terburu-buru ingin
menulis sesuatu.
“ Ya ya. Ada. Bentar
yaa” Jawabku
sembari merogoh tas ku mencari kotak pensil yang berisikan beberapa pena dan
pensil.
“Ini penanya”
seru ku singkat sambil menjulurkan pena ke arahnya. Dia pun bergegas mengambil
pena dari tanganku dan menulis sesuatu di kertas yang berada di dalam map yang
di pegang nya sejak tadi.
“Ini mbak,
makasih penanya. Eh, mbak daftar disini juga yah? Gimana? Lulus? Urutan ke
berapa?” Tanya nya memborong yang terkesan membuat aku berfikir betapa SKSD nya
lelaki yang
memiliki satu jerawat di pipi kanannya ini.
“ Iyaa. Aku dan
temanku daftar disini juga kebetulan lulus dan Alhamdulillah masuk urutan lima
besar” Jawabku dengan memperlihatkan senyum yang terkesan dibuat-buat. Emm.. bukan terkesan sih, emang sengaja di
buat-buat. Soalnya aku illfeel melihat lelaki ini karena penampilannya yang
tidak rapi apalagi melihat rambutnya yang hampir menyerupai sangkar burung. Di
tambah pertanyaan nya yang terkesan sedang mewawancarai tersangka maling ayam.
Uh, bikin jengkel deh pokoknya. Tapi tentu saja aku tidak memperlihatkan
ketidak senanganku pada nya untuk menjaga perasaannya dan menjaga nama baik ku
pastinya.
“Eh, mbak sudah
daftar ulang belum? Daftar ulang nya disana. Bawa’ photo copy raport, ijazah,
skhu dan Bla. Bla. Bla” dia terus saja menceracau seraya menunjuk sebuah
ruangan yang tak jauh dari tempat ku berdiri.
“Belum, besok aja deh
kami kesini lagi. Kami kesini tadi gak bawa syarat-syarat daftar ulangnya,
lagian kayak nya daftar ulang nya udah mau tutup deh. Sekarang udah hampir jam
4.” Kata ku sambil menunjukkan jam tangan yang aku kenakan ke arahnya. Ntah dia
lihat atau tidak kemana arah jarum jam pada saat itu, peduli amat pikirku. Dia
hanya mengangguk-angguk dan tak lama kemudian pamit untuk pergi. Aku dan Wulan
hanya tersenyum lirih kearahnya.
Keesokkan harinya
aku dan Wulan datang kembali ke calon sekolah baru kami untuk daftar ulang.
Usai daftar ulang, kami pun melihat pengumuman tentang atribut apa saja yang
digunakan untuk mengikuti MOS. Terlihat
pengumuman MOS tertulis
di sebuah karton warna pink dengan coretan spidol. Banyak sekali yang harus di
persiapkan pikirku saat melihat poin-poin pengumuman yang tertempel di dinding
ruangan berwarna cream itu.
“Hey, udah daftar
ulangnya?” Nampak dari kejauhan ada sosok laki-laki si empunya suara
menghampiri kami. “Olala
laki2 ini yang SKSD kemarin, nongol lagi ternyata”. gerutuku dalam
hati.
“Iya, kami barusan
selesai daftar ulang, ini lagi nyatat atribut MOS” Jawabku sambil
menulis di buku catatanku dan sesekali melirik ke arahnya.
“Wah, ada ya? Apa
aja yg harus dibawa’? banyak yah?” Tanya si laki-laki yang lupa kutanyakan
siapa namanya dan tak penting pikirku saat itu.
“Itu kan ada semua
noh ditulis di karton itu. Kamu catet aja lagi” Perintah wulan menimpali pertanyaan dari laki-laki yang langsung
mengeluarkan buku dan pena untuk bersiap mencatat. Lelaki itu pun membalas
dengan anggukkan dan senyuman namun tetap saja banyak pertanyaan-pertanyaan yang tidak
penting dan tidak perlu kami jawab perihal atribut MOS. Toh semua sudah
di jelasi lengkap di pengumuman tersebut. Kepo banget sih
nih anak. Gerutu ku dalam hati.
Oh my GOD..... Seperti
inikah teman-temanku nanti disekolah baruku ini???
*****

Ada
yang menyodorkan sebotol air mineral di hadapanku saat aku baru saja selesai
latihan paskibra. Haus memang saat itu ditambah cuaca yang memang terik. Namun
aku tak lantas mengambilnya, aku amati sejenak air mineral yang di sodorkan
oleh tangan berkulit sawo matang itu tepat di depan mukaku yang penuh dengan
keringat. Aku mendongak ke atas untuk melihat siapa yang berbaik hati memberi
ku sebotol air mineral, ku dapati sesosok pria yang tersenyum sumringah kearah
muka-ku yg tak karuan bagaimana bentuknya pada saat itu. Laki-laki yang tampan
kesan pertamaku melihat laki-laki ini. Aku hanya terdiam aneh melihat wajah nya
yang seakan telah
mengenalku cukup lama sementara aku tak tahu siapa dia. Berhubung rasa haus yang
amat sangat aku pun lekas meraih sebotol air mineral yang ada ditangannya dan
lantas meminumnya. dua teguk air membasahi kerongkonganku yang tandus.
“Huhh..
Akhirnyaa rasa haus ku terobati, emm
makasih yaa” Ujarku seraya menatap laki-laki yang tak ku ketahui namanya. Ntah
lupa atau aku nya benar-benar gak tau.
“Sama-sama.
Kamu masih ingat aku?” Responnya
singkat namun mampu membuat ku salah tingkah. Waduh, celaka... pertanyaan yang
ku takutkan akhirnya muncul juga.
“E..eh. eh.. Emang kamu siapa?
Hehe ” tanyaku sambil cengengesan
dengan muka yang dibikin sok manis. Sambil mengingat siapa gerangan lelaki yang
mengenakan kaos hitam dan celana jeans ini.
“Aku
Awan anak Sepuluh C” jawabnya dengan
penuh antusias
Usiaku
sekitar 15 tahun pada waktu itu dan baru menginjak lima bulan pertama sebagai
murid kelas satu SMA. Sebagai
murid baru wajar saja aku tak mengenal dia walaupun dia seangkatan denganku.
Letak kelas nya berada di belakang kelasku, dan lima bulan pertama di sekolah
hampir sebagian besar kuhabiskan didalam kelas untuk sekedar baca novel dan
menulis puisi, hobi yg mulai ku geluti sejak SMP. Jadi sangat wajar jika aku
tak mengenali sosok pria yang saat itu duduk di sampingku dan sesekali
menatapku dengan pandangan yang mampu membuat hati ku bergetar.
“Oh, Awan yah? Thanks
loh buat air nya. Betewe ngapain kamu
disini? Ikut paskib juga? Kok gak pake’ baju latihan” Cerca ku dengan
rentetan pertanyaan biar terkesan akrab tapi malah terkesan sok akrab.
“Gak kok, aku
pengen liat kamu latihan aja sekalian bisa kenal akrab sama kamu” ucapnya
sambil tersenyum manis.
“Alaaah kamu bisa aja” Ucapku singkat
supaya gak terkesan
salting. Padahal.. beeuhh... deg-deg-an aku di buatnya.. Pengen teriak
kegirangan tapi bukan Fita namanya
kalo gak bisa masang muka stay cool dihadapan cowok. Aku membalas senyumnya dengan senyuman semanis mungkin
ala miss Indonesia yang baru kepergok maling jemuran.
Lho? Emang ada?
Sejak
kapan aku mulai di gombalin cowok cakep pikirku waktu itu. Baru saja ingin
berkhayal ria sang pelatih paskibra menyuruh aku beserta anggota paskibra
lainnya berbaris lagi di lapangan sekolah di tengah teriknya matahari yang
terasa menembus epidermis kulitku.
“Eh,
aku latihan dulu yah wan...” Seruku sampil
menepuk ringan pundaknya.
“iyaa,
ta.. jangan terlalu capek yah, ntar pingsan lho” Teriak nya ketika aku bergegas meninggalkannya duduk
sendirian menuju lapangan. Aku hanya mengacungkan jari jempolku dan kali ini
tersenyum layak nya anggota DPR yang koruspi tapi gag ketahuan publik. Lho koq?
Siap
gerak, luruskan, Jalan tempat, hadap kiri, hadap kanan, balik kanan.. yah itu lah aba-aba yang di teriakkan lantang oleh pelatih paskibra ku yang serentak aku
dan teman-teman ikuti
dengan nyawa setengah melayang. Uhh.. capek juga fikirku ikut ekstrakurikuler yang
satu ini. Perlu diketahui sekolah ku mewajibkan muridnya untuk mengikuti
ekstrakulikuler apapun di sekolah. Minimal satu ekskul. Berhubung temen-temenku
banyak yang ikutan
ekskul yang
menguras tenaga ini. Aku pun iseng ikut-ikutan jugaa, yah.. nambah pengalaman
lah pikirku.
“Fitaaa, khusus untk Fita karena kakak lihat dia sering
melamun, gerakkannya salah terus. Langkah tegap maju jalan.” Teriak kakak pelatih itu yang kayaknya
sengaja mempermalukanku.
Ettdahh aku
tersentakk. “Kenapa
aku sih? Padahal yang lain
kan juga banyak yang salah gerakannya. Kok cuma aku yang diberi aba-aba seperti
itu?” gerutuku kesal dalam hati seraya tetap berjalan mengikuti aba-aba yang di
perintahkan pelatih bertubuh tinggi tegap itu.
“Henti
gerak!” Aba-aba
darinya mengharuskan ku untuk berhenti di
tengah lapangan persisnya tepat di depan tiang bendera. Gilaa.. panassnyaa
semriwing deh pokoknyaa..
“Balik
kanan gerak!” Aba-aba dari pelatih membuyarkan pikiranku yang hampir melamun
lagi untuk ke sekian kalinya.
Taarrraaa...
ketika aku membalikkan badanku.. kudapati sosok pria yg dengan senyum khas nya
berdiri cool tepat dihadapanku. Aku tak dapat menyembunyikan rasa kaget ku. Ku lirik
pelatihku namun dia hanya
tersenyum di iringi sorakkan dan siulan dari teman-temanku. Hmm... Nampaknya terjadi persengkokolan
antara pelatih paskibraku dengan laki-laki yang berdiri tepat dihadapanku ini.
“Hah? Kamu ngapain
berdiri disini?” celetuk ku dengan agak sedikit jutek mungkin kebawa kesal
gara-gara hanya aku dari 35 orang yang ikut latihan pada siang itu yg harus berdiri
di tengah-tengah lapangan ditemani matahari yang seakan gak mau pisah dari
tempatku berdiri.
Setalah hening selama 30 detik, Awan pun menjawab...
“Aa a ku Cuma mau bilang kalo E ee..
ee.. aa..aa..kuu.. Aakuu ssukaa sama kamu taa, kamu mau gag jadi pacar aku?”
JEGERR.. Mataku terbelalak dan mulutku tak mampu
berbicara diikuti jantung yang berdegup kencang, keringat menyucur deras, dan
mulutku susah sekali untuk mengeluarkan suara. Sumpah, aku kaget banget
mendengar ucapannya yang terkesan to the point itu. Mendengar pernyataan cinta
tersebut kontan saja teman-temanku yang
tadinya berbaris rapi kini berpencar membentuk huruf O melingkar menyisakan
ruang ditengah-tengahnya yang hanya ada aku
dan Awan. Bahkan
kakak-kakak kelas ku yang kebetulan lagi istirahat dari les di luar jam sekolah
pun turut beramai-ramai menyaksikan sweet tragedy yang tak pernah aku duga-duga
sebelumnya. Yaa Tuhan.. Ini apa
coba? Aku kan belum kenal siapa orang ini? Kok dia langsung nembak aku sih? Aku harus bilang apa?
Ceracau ku dalam hati dan perlahan
mengepalkan tanganku yang mulai
terasa dingin dan kaku karna
nerveous minta’ ampun.
“Gimana
taa, kamu mau gak jadi
pacar aku? Aku
sayang sama kamu. Terima aku yaa? Please?” ucap Awan dengan raut wajah yang serius
seraya meraih kedua tanganku yang
berhasil beku pada kala itu. Aku pun melepaskan genggaman tangannya dan mundur
perlahan dua langkah
dari hadapannya. Haduh.. harus jawab apa coba? Masa aku jadian sama orang yang baru aku kenal
barusan? Gag asik dong. Bisikku dalam hati sambil memasang tampang seperti
orang yang sedang
berfikir.
“Ee..eeh.. gimana
yaa wan, jujur
aku belum mengenal kamu lebih dekat. Dan aku rasa kamu pun juga begitu. Kok kamu
bisa suka sih sama aku? Kok tiba-tiba kamu harus senekat ini?” Kataku seraya
melihat mukanya yang
dipasang setengah memohon. Persis kayag adek aku
sewaktu merengek minta di beli’in permen.
“Aku
udah lama merhati’in kamu bahkan sebelum kita resmi
masuk di sekolah ini. Kamu inget cowok yang minjem
pena sewaktu kamu mendaftarkan diri ke sekolah ini? Kamu inget cowok yg banyak tanya perihal
atribus mos yang harus
dikenakan padahal di mading udah ada pengumumannya? Kamu inget cowok itu taa?” Tegasnya dengan semangat ’45 persis
pahlawan revolusi.
Itu akuu, aku
sengaja minjem pena dan nanya2 gag jelas semata-mata untuk deket dan mengambil
perhatian kamu. Sampai dirumah aku kepikiran kamu terus, kamu manis dan kamu
baik pikirku. Aku pengen jadi orang special di hati kamu? Please tha?” Sambung Awan penuh penghayatan dan membuat aku yang melihatnya
terharu bercampur iba.
Busyet
deh... Aku hanya mampu menelan ludah mendengar kata-kata yang tak kusangka
langsung merubah suhu tubuhku menjadi panas dingin tak karuan. Aku melihat di
sekelilingku yang sedari
tadi mengucapkan kata “terima” dengan penuh suka cita. Aku benar-benar bingung
pada waktu itu, aku gak nyangka bahwa pria tampan ini adalah pria yg aku anggap
SKSD ”sok kenal sok dekat” pada waktu pendaftran sekolah. Pangling aku
dibuatnya. Dia berubah 180 derajat sejak pertama kali aku melihatnya.
Dia telah berubah
nampaknya dari segi penampilan, pantas saja aku hampir tak mengenalinya meski
dalam hati berujar seperti pernah melihatnya tapi dimana?
Pertanyaanku
terjawab sudah. Dia orang SKSD itu. Tapi dulu gaya nya sangat cupu sekali,
persis orang desa masuk kota. Tapi sekarang, dengan gayanya
dari ujung kaki sampai ujung rambut dia bahkan bisa mendapatkan 5 wanita yang jauh lebih baik
dari ku.
Waktu itu aku
bukanlah wanita yang senang memperhatikan penampilan. Bahkan aku ke sekolah pun
tanpa bedak yg menempel. Penampilanku biasa-biasa saja . Aku tak bisa dibilang
cantik pada waktu itu meski terkadang sayup-sayup ku dengar ada yakg memuji
senyum manisku. Caa
ilee...
Haah? Apa hanya dengan bermodal senyum
aku mampu mengetarkan
hati pria yg berdiri harap-harap cemas tepat dua langkah di hadapanku. Lagi-lagi aku di selimuti
kebimbangan. Aku takut dia hanya mempermainkanku. Aku menoleh kearah teman
karibku, Wulan. Dia mengangguk memberi
pertanda bahwa dia setuju. Ah, ingin sekali aku berkata tidak. Namun melihat
raut muka Awan yang
begitu berharap dan mendengar teriakan “terima” dari teman-teman sekelilingku
aku pun luluh juga, aku tak ingin mengecewakan mereka dan akhirnya...
“
Yaa, aku mau jadi
pacar kamu. Tapi kamu janji kan gak mainin
perasaan aku?” Tanyaku dengan sorotan
mata yang tajam seperti baru saja memergoki maling sandal di masjid.
“
Pasti ta, Aku gak bakal ngecewa’in kamu.
Aku sayang kamu. Makasih ya ta udah nerima aku. Jadi, mulai sekarang kita
pacaran kan?” Ucapnya penuh semangat dengan raut muka yang begitu bahagia.
Aku pun hanya tersenyum dan mengangguk merespon positif semua perkataan nya yang menunjukkan rasa senang yang amat sangat.
Tuhan. Inikah
sosok malaikat yang Engkau kirimkan untuk menjaga ku
disekolah baru ini? Aku hanya bisa bernafas lega dan berkata dalam hati. Awan,
Aku telah memilihmu menjadi laki-laki pertama yang menjadi pacarku di sekolah
baru ini. Aku harap kamu gak
ngecewa’in aku. Dan aku akan belajar mencintaimu dan menjadi yang terbaik
untukmu. Aku harap kamu menjadi salah satu alasan bagiku untuk semangat belajar
dan mengejar prestasi di sekolah ini dan aku pun akan selalu berusaha menjadi
seseorang yang berarti di hidupmu untuk ke depannya. Aamiin..
*****